Menu

Latest Research

Pil Kontrasepsi Darurat


 

Sejak diproduksi secara masal pada enam tahun silam, Pil kontrasepsi darurat yang semula dibuat untuk mencegah kehamilan ini malah disalahgunakan untuk aborsi. Itu sebabnya, kini Prof. Anna Glasier, seorang pakar keluarga berencana dari Inggris ‘mati-matian’ ingin menjernihkan kegunaan pil kontrasepsi darurat ini di kalangan perempuan.

Seperti dikutip dalam British Medical Journal, selama ini kalangan perempuan di Inggris telah salah mengerti akan kegunaan pil kontrasepsi darurat ini. Dengan adanya pil kontrasepsi darurat ini angka aborsi di Inggris justru semakin meningkat. “Selama ini masyarakat salah dalam cara mengonsumsi pil tersebut. Pil yang hanya efektif selama 72 jam ini seharusnya dikonsumsi sebelum dan selama melakukan hubungan seksual dengan maksud mencegah terjadinya pembuahan setelah hubungan seksual. Bukan diminum setelah melakukan hubungan seksual,” ujarnya. “Mereka sengaja melakukan hal tersebut karena mereka tahu bahwa pembuahan pasti terjadi setelah terjadi hubungan seksual,” ujar Profesor Anna menambahkan.

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh mantan pengurus Asosiasi Keluarga Berencana, Toni Belfield. "Pil kontrasepsi darurat ini tidak sama dengan pil kontrasepsi biasanya. Pil ini juga bukan pengganti dari pil kontrasepsi yang seharusnya," ujarnya menegaskan. Juru bicara Departemen Kesehatan juga mengatakan selama ini telah terjadi salah pengertian dalam masyarakat mengenai kegunaan pil kontrasepsi darurat ini.

Pemerintah Inggris tidak pernah mengatakan bahwa pil ini adalah jawaban untuk menekan angka kehamilan melalui aborsi di Inggris. "Kebijakan kami selama ini adalah mengutamakan seks yang aman dengan menggunakan alat kontrasepsi yang bisa diandalkan agar dapat melindungi perempuan dari kehamilan yang tidak diinginkan," ungkap juru bicara tersebut.

Related Articles